Wahabisme Bisa Masuk Ke Desa : Oleh : Ahmad Samsul Rijal

Wahabisme Bisa Masuk Ke Desa : Oleh : Ahmad Samsul Rijal

78 Pembaca
0
Ahmad Samsul Rijal ( Kader Muda NU )
Ahmad Samsul Rijal ( Kader Muda NU )

Tanggal 23 Desember 2015, banyak sumber berita nasional merilis rencana Pemerintah Arab Saudi membantu desa dan daerah tertinggal. Rilis itu dimuat setelah Duta Besar Arab Saudi, Musthofa Ibrahim Al-Mubarak, berkunjung ke Kantor Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Kalibata, Jakarta Selatan. Dia menyatakan bahwa pihaknya berencana membantu Pemerintah Indonesia memajukan desa dan daerah tertinggal, utamanya pendidikan berbasis pesantren.


Sontak saya teringat keterangan mantan Direktur C.I.A. James Woolsey, sebagaimana dimuat oleh salah satu portal nasional yang bisa dipercaya, bahwa sejak akhir 1970-an dan awal 1980-an, Arab Saudi telah menghabiskan 90 milyar Dollar (setara Rp. 1.246 trilyun dengan kurs Rp. 13.850/1 dolar) untuk penyebaran faham Ultra Radikal Salafi/Wahabi-isme dalam bentuk sumbangan ke negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) dalam “kemasan” dana pembangunan atau operasional Masjid, Madrasah, Pesantren, dan Islamic Center. Bantuan itu disertai dengan distribusi buku-buku agama, materi akademis, dan pembiayaan pendidikan calon Imam atau Ustad. Dan, materi edukasi Islam yang disisipkan memuat materi penghasutan dengan kebencian (red. terhadap sekte Syiah dan Yahudi), fanatisme dan radikalisme.

Tidak hanya James Woolsey, Menteri luar negeri Amerika, Hillary Clinton, sebagaimana dimuat WIKIPEDIA : Saudi Arabia is the world’s largest source of funds for terrorist militant groups: al-Qaeda, Taliban, ISIS, according to Hillary Clinton (Wahabi Arab Saudi adalah sumber dana terbesar untuk terorisme global, dari Al-Qaeda, Taliban hingga ISIS). Dengan begitu, Saudi Arabi menjadi induk semang atau biang gerakan terrorist internasional dan gerakan radikalisme global. Namun demikian, koalisi negara barat tetap menempatkan Saudi Arabia sebagai mitra strategis di kawasan negara-negara timur tengah.

Sebagaimana dipahami sebagai konsep yang sedang dijalankan oleh Pemerintahan Jokowi-JK melalui Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, bahwa desa mempunyai posisi dan peran yang lebih berdaulat, posisi dan peran yang sangat besar dan luas dalam mengatur dan mengurus desa. Model pembangunan yang dulunya bersistem Government driven development atau community driven development, sekarang bersistem Village driven development.

Dalam konteks ini, desa menjadi kekuatan dan pada saat yang sama menjadi peluang. Sebagai kekuatan, desa menjadi arena pelaksanaan program pembangunan dari pemerintah. Kemandirian desa dalam mengatur dan mengurus kehidupan masyarakatnya menjadi potensi besar bagi pemberdayaan partisipasi masyarakat. Desa juga menjadi peluang bagi pihak lain yang berkepentingan (termasuk jaringan radikalisme) untuk meluaskan dan menguatkan pengaruhnya melalui skema-skema pelayanan yang mudah diterima oleh masyarakat desa.

Dalam beberapa kali seminar atau workshop yang diikuti penulis, paham radikal yang mengatas-namakan agama sudah mulai masuk dilingkungan masyarakat desa. Komunitas desa dengan perilaku agamis tradisionalis mulai dialih-kenalkan paham agama yang bersifat fundamentalis dengan kedok purifikasi (pemurnian) sumber ajaran. Pendekatan seperti ini menjadi jalan bagi tumbuhnya paham dan sikap radikal di tengah masyarakat desa.

Berbagai referensi cenderung menyimpulkan bahwa kelompok dan jaringan motivator yang berusaha mengalih-kenalkan paham agama ke arah fundamentalisme, puritanisme dan radikalisme adalah mereka yang berideologi Salafi atau Wahabi, yakni founding father ideology Saudi Arabia, Muhammad Ibnu Abdul Wahhab An Najd. Kelompok wahabi ini mengaku membawa misi memurnikan ajaran tauhid dari kemusyrikan, khurafat, bid’ah, menyembah makam-makam (kuburan), dan lain sebagainya.

Syariat Islam, bagi mereka, sepanjang tidak diatur dan ditentukan pelaksanaannya dalam Al Qur’an dan Al Hadist dianggap bid’ah (hal baru yang mengada-ada). Dan setiap bid’ah dinilai sebagai kesesatan yang kelak di akhirat dipastikan masuk neraka. Oleh karenanya, kelompok atau mereka yang telah terkontaminasi oleh wahabisme akan dengan mudah mengklaim sebagai pembawa kebenaran dan pemurni agama serta menilai selain mereka sebagai yang sesat, musyrik, kafir dan wajib dimusuhi.

Bila komunitas desa menerima dengan bebas terhadap tumbuh-kembang paham-paham yang membahayakan bagi interaksi dan pola hidup dalam struktur sosial masyarakatnya, maka gesekan-gesekan konflik, terbuka maupun laten segera terjadi. Desa tidak bisa lagi tumbuh sebagai entitas sosial budaya yang terhubung secara sehat. Desa akan terpolarisasi oleh ideology yang tidak bisa menopang ideology keagamaan dan kebangsaan yang kokoh. Sebaliknya, desa menjadi rapuh untuk bisa menopang keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Derasnya pengaruh dari luar, menjadikan desa kehilangan lokalitas, kearifan dan keaslian atas asal usulnya. Keluhuran budaya dan nilai yang telah berkembang di desa serta mengikat erat hubungan kekerabatan dan kegotong-royongan mulai memudar bersamaan dengan masuknya Wahabisme yang telah diidentifikasi oleh cendekiawan Barat sebagai biang atau induk semang terrorist dan Radikalisme.

Cukuplah wahabisme menjadi ideology warga Saudi Arabia, karena ‘kita’ bukan waga Islam Arab, tapi Islam Nusantara.

Komentar

Powered by Facebook Comments