Negeri Holopis Kuntul Baris

Negeri Holopis Kuntul Baris

134 Pembaca
0
Pak Halim dengan tagline 'Holopis Kuntul Baris'
Pak Halim dengan tagline 'Holopis Kuntul Baris'

Ketika berpidato dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juli 1945, salah satu hal yang disinggung Bung Karno adalah gotong royong. Di tengah suasana sidang yang memanas dan cenderung tidak mau kalah satu sama lain, Bung Karno kembali mengingatkan tentang pentingnya semangat gotong royong. Bung Karno yakin, tanpa memegang teguh nilai-nilai kolektivisme sebagai sebuah bangsa, mustahil Republik Indonesia bisa berdiri. Mustahil pula penjajahan akan musnah dari bumi Pertiwi. Dan, sebagaimana kita tahu, pidato Bung Karno tanggal 1 Juli tersebut menjadi tonggak tersusunnya Pancasila. Penjelasan Bung Karno tentang nilai-nilai kegotong royongan berhasil meluluhkan ketegangan suasana sidang sehingga bersepakat menerima Pancasila sebagai dasar negara.

Oleh karena itu, sebagaimana dikatakan Yudi Latif dalam buku, “Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila” (2011) jika harus diringkas dengan sangat padat, sesungguhnya hakikat inti dari Pancasila adalah gotong royong. Dengan demikian semangat gotong royong adalah elan vital dari Pancasila yang kemudian menjadi stat fundamental norm (dasar dari segala dasar konstitusional) berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Selanjutnya, dalam proses sosialisasi nilai-nilai gotong royong tersebut, Bung Karno punya banyak cara. Salah satunya dengan menggunakan metafor atau perumpamaan yang akrab dalam benak masyarakat Nusantara. Contohnya, berulang kali Bung Karno memakai semboyan Holopis Kuntul Baris (HKB) untuk menjelaskan arti penting kolektivitas dalam berbangsa dan bernegara. Dalam bahasa jawa, HKB berarti, “saiyeg saeka praya, bebarengan mrantasi gawe.” Maksudnya, bekerja dengan semangat kebersamaan dan keguyuban atau dalam istilah lain dikenal dengan ungkapan, “sepi ing pamrih rame ing gawe” atau “berat sama dipikul ringan sama dijinjing”. Ringkasnya HKB adalah metafor dari substansi nilai gotong royong.

Secara ilmiah, pilihan menggunakan burung kuntul sebagai perlambang, tidak keliru. Sebab burung kuntul merupakan burung yang sangat “guyub dan rukun” dalam kesehariannya. Secara sosio-biologis, seperti burung air lainnya, burung kuntul sangat menghargai kegotong royongan dalam bermigrasi mencari makanan, membangun sarang, maupun saling memberi perlindungan dari ancaman pemangsa (MacKinnon, 1993).

Selain pernah digunakan oleh Presiden Soekarno, HKB juga banyak dikutip oleh tokoh-tokoh lainnya, diantaranya Ki Hadjar Dewantoro, Sri Sultan Hamengkubowono IX, dan RM Sosrokartono. Hal tersebut sangat beralasan mengingat prinsip HKB kompatibel dengan hakikat “nyawiji/manunggal” antara rakyat dan pemimpinnya. Dalam semangat gotong royong, yang terlihat adalah kebersamaan, kolektivitas. Bukan egoisme yang ingin menunjukkan kediriannya masing-masing.

Sehingga dalam konteks berbangsa dan bernegara, HKB meniscayakan peleburan antara rakyat dan pemimpinnya. Sebagai contoh, grup musik Jogja Hip Hop Foundation dalam salah satu lagunya yang berjudul “Jogja Istimewa” (2009) menggambarkan substansi “nyawiji” tersebut dalam potongan lirik, “Tambur wis ditabuh suling wis muni// Holopis kuntul baris ayo dadi siji// Bareng para prajurit lan senopati//Mukti utawa mati manunggal kawula Gusti.” Maknanya kurang lebih, “tambur telah ditabuh, seruling sudah berbunyi, bersatu padu menjadi satu, bersama prajurit dan senopati, mulia atau mati, rakyat dan pemimpin adalah kesatuan yang tidak terpisahkan.”

Dengan kata lain, jika dikontekstualisasikan dengan prinsip demokrasi, HKB selaras dengan pedoman, “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.” Atau, “dari kita, oleh kita dan untuk kita.”

HKB Menjawab Tantangan Zaman
Abad ke-21 adalah abad globalisasi. Sekalipun embrio globalisasi sudah berawal sejak puluhan tahun sebelumnya, namun revolusi teknologi informasi dan transportasi menjadikan akselerasi globalisasi menjadi sangat dahsyat (Castels, 2004). Apa yang terjadi di belahan dunia lain saat ini, dapat kita saksikan seketika juga di Indonesia. Fenomena inilah yang membuat globalisasi sebagai gejala yang tidak terelakkan.

Namun, sekalipun globalisasi adalah keniscayaan sejarah, bukan berarti kita harus menelannya mentah-mentah. Banyak sekali nilai-nilai globalisasi yang memberi efek negatif bagi kita. Contoh, liberalisme, hedonisme dan individualisme adalah beberapa kasus yang mulai menggejala dalam masyarakat kita sebagai konsekuensi dari kian derasnya arus globalisasi. Tanpa berpegang pada nilai luhur bangsa, niscaya kita akan hanyut oleh isme-isme tersebut. Begitu pula dengan fenomena Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 yang merupakan bentuk globalisasi ekonomi di level regional. Tanpa fundamen perekonomian yang kokoh, tinggal menunggu waktu saja perekonomian nasional akan kalah dengan negara-negara tetangga.

Artinya, jika kita membiarkan diri hanyut begitu saja dalam arus globalisasi, maka nasib petani, nelayan, buruh, pelaku UMKM dan wong-wong cilik lainnya akan makin menderita. Sebab prinsip gotong royong dan ekonomi kekeluargaan tidak berlaku dalam globalisasi ekonomi. Dalam kamus globalisasi, siapa kuat dia yang menang.

Dalam konteks inilah penting dilakukan revitalisasi nilai-nilai HKB sebagai basis nilai kehidupan bangsa. Oleh karena itu, dalam konteks ekonomi, revitalisasi koperasi menjadi pilihan yang tepat. Melalui revitalisasi nilai dasar koperasi yang diajarkan Bung Hatta, kita “pertarungkan” nilai kekeluargaan koperasi dengan individualismenya globalisasi, kita perdebatkan keadilannya koperasi dengan ketimpangannya transnasionalisme ekonomi.

Selanjutnya, dalam konteks pengelolaan pemerintahan, justru HKB jauh lebih sempurna dibandingkan konsep good governance yang “disusupkan” melalui globalisasi. Bagaimana tidak, jauh sebelum relasi state-privat dan civil society menjadi pujaan banyak Negara di dunia, HKB sudah mengajarkan nilai bebarengan, sebagai prinsip dalam pengelolaan pemerintahan yang tidak dapat dilepaskan dari peran pemerintah dan masyarakat dari semua kalangan, termasuk didalamnya dunia usaha dan civil society, dalam relasi kesejajaran.

Singkatnya, HKB merupakan modal bagi bangsa Indonesia untuk menyelamatkan kekayaan lokal dan memenangi pertarungan global. Melalui spirit HKB, mari berbaris segaris, duduk sejajar dan berdiri setara, bergandeng tangan menjalankan agenda pembangunan berkelanjutan berbasiskan kearifan lokal, mewujudkan Indonesia adil makmur yang berkeadilan dan berkemajuan. HOLOPIS KUNTUL BARIS.

Tentang Penulis
A. Halim Iskandar
Pendidik dan Ketua DPRD Provinsi Jawa Timur

Dimuat pada Harian Jawa Pos, 05/02/2016

Komentar

Powered by Facebook Comments