Ida Fauziah: Indonesia Bukan Negara Agama

Ida Fauziah: Indonesia Bukan Negara Agama

70 Pembaca
0
Hj. Ida Fauziah menyampaikan pemaparan soal Pancasila di Grha Gus Dur

News PKB Jombang – Warga Nahdhatul Ulama tidak perlu bimbang dengan munculnya beragam propaganda yang berusaha merongrong kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Demikian pesan anggota MPR RI Dra. Hj. Ida Fauziah di hadapan warga nahdhiyin peserta Sosialisasi Empat Pilar yang digelar di Grha Gus Dur, Jombang, Selasa (13/12/2016).

Menurut Ida, NU sudah selesai bahwa Indonesia bukan negara agama. Bagi NU Indonesia adalah negara kesatuan yang dibangun di atas nilai-nilai agama. “Keserasian nilai-nilai agama, nilai berbangsa dan bernegara merupakan ruh yang diformulasikan dalam Pancasila,” tegas Ida yang juga mantan Ketua PP Fatayat NU itu.

Dalam kegiatan yang digelar Selasa-Kamis (13-15/12/2016) itu Ida menegaskan, propaganda yang terutama sangat gencar dilakukan melalui media sosial sengaja dihembuskan oleh pihak yang sebenarnya tidak memiliki akar dan latar belakang sejarah di Indonesia.

“Berbeda dengan kita, warga nahdhiyin. Kita memiliki sejarah. Memiliki kontribusi terhadap terbentuknya NKRI. Ada KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Chasbullah, KH. Wachid Hasyim yang harus kita teruskan cita-cita perjuangan mereka,” tegas Ida.

Menurutnya, atas arahan dan petunjuk hadratussyeikh Hasyim Asyari, Wahid Hasjim berhasil memasukkan sila ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ dalam Pancasila sebagai ganti dari ‘Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya’.

“Gagasan Negara Kesatuan Republik Indonesia  yang berdasarkan Pancasila inilah yang diperjuangkan oleh Mbah Hasyim melalui peran langsung KH. Wahid Hasjim dalam BPUPKI dan PPKI. Kelestarian cita-cita beliu merupakan tanggungjawab kita bersama sebagai warga nahdiyin,” jelas Ketua Fraksi PKB DPR RI ini.

Selain meneladani, lanjut Ida, bangsa Indonesia dan warga nahdhiyin khususnya, harus berterima kasih kepada para kiai yang telah menggariskan perjuangan mereka di atas aqidah ahlussunnah wal jamaah.

“Maka dari itu karakter politik beliau-beliau itu sangat khas. Bukan murni bertujuan kekuasaan. Tapi merebut kekuasaan untuk kemaslahatan umat. Adagium yang dipakai dalam hal ini adalah kaidah fiqhiyah, tasharraful imam alaroiyyati manuthun bil mashlahah (kebijakan pemimpin terkait warganya harus berdasarkan kemaslahatan – red),” pungkas perempuan asal Mojokerto ini.(*)

Komentar

Powered by Facebook Comments