Gus Dur: Pelacur dan Kucing, Kiai dan Burung

Gus Dur: Pelacur dan Kucing, Kiai dan Burung

117 Pembaca
0
Kh. Abdurrahman Wahid, ( Gus Dur )
Kh. Abdurrahman Wahid, ( Gus Dur )

News PKB Jombang – Mereka yang terbiasa membaca kisah-kisah para Sufi, tentu langsung dapat menebak ke mana arah tulisan ini. Bagi mereka, silakan membaca hal-hal lain saja, dan tulisan ini dapat ditinggalkan atau dilewatkan. Bagi yang belum tahu, harap bersabar membacanya hingga selesai.

Alkisah, seorang pelacur tua, mungkin tinggal seonggok daging dan penuh dengan kuman penyakit kotor, tertatih-tatih menempuh perjalanan di padang pasir. Perbekalan tinggal air sekendi belaka, padahal perjalanan masih jauh. Tiba-tiba dilihatnya seekor anjing tergeletak begitu saja di tempat sepanas itu. Tiada harapan lagi untuk hidup, karena sudah tidak kuasa berjalan lagi. Tinggal menunggu saat kematian. Tak sampai hatinya melihat penderitaan anjing itu, pelacur tersebut lalu meminumkan airnya yang tinggal sedikit itu ke mulut makhluk sial dangkalan itu. Makhluk hina itu lalu mampu meneruskan perjalanan, dan menyelamatkan diri dari kematian.

Menurut cerita itu, sang pelacur akhirnya mati kehausan, sang anjing selamat sampai di kota berikut dan berhasil memelihara kelangsungan hidupnya. Tetapi, kematian pelacur itu berujung pada kebahagiaan abadi, karena ia langsung masuk surga abadi, surga tertinggi. Karena keibaannya yang tak terhingga kepada makhluk lain, hingga melupakan keselamatan diri sendiri, ia memberikan darma bakti tertinggi kepada kemanusiaan. Ini yang disebut kasih sayang tanpa batas, dan dengan itu ia bermodal cukup untuk masuk surga. Walaupun sebelum itu, ia sudah begitu rupa bergelimang dengan dosa.

Lain lagi kisahnya dengan kiai. Sewaktu akan bepergian ke kota lain, kiai bujangan yang berdiam seorang diri di rumahnya, samar-samar ingat dengan kebutuhan burung peliharaannya kepada air minum. Rasa malasnya timbul. Ah, biarkan saja, tidak apa-apa, binatang kan tahan haus. Itu pun hanya sehari. Ternyata kiai yang sholeh dan berpengetahuan agama sangat mendalam itu terhambat perjalanannya, kembali ke rumah beberapa hari kemudian. Didapatnya burung itu sudah mati. Karena burung toh bukan makhluk berharga tinggi, ia pun segera melupakan hal itu. Biasa saja, ada makhluk lahir dan ada pula makhluk mati, soal kehausan hanyalah sebab belaka.

Bagaimana nasib kiai tersebut di akhirat kelak? Menurut cerita Sufi itu, ia masuk neraka wail, neraka terdalam, pasalnya? Karena ia menganggap sepele keselamatan makhluk yang ada di dunia ini. Setiap makhluk, dari sebesar-besarnya hingga sekecil-kecilnya sekalipun, memiliki nilainya sendiri. Tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi bagi siklus kehidupan secara umum. Bagi kelangsungan kehidupan di muka bumi. Dengan kata sederhana, sikap pak kiai sholeh dan berilmu agama mendalam itu adalah sikap meremehkan pentingnya arti kehidupan secara keseluruhan. Sikap tidak menghargai keagungan dan kehebatan kreasi Allah yang sangat menakjubkan itu. Sikap meremehkan kehendak Allah akan perlunya kehidupan dilestarikan sebagai tanda pengakuan akan keagungan dan kebesaran-Nya sendiri.

Dua dimensi cinta dan kasih sayang sesama makhluk, seperti dipaparkan cerita sederhana di atas, menunjukkan dengan jelas, bahwa keberagamaan secara formal semata-mata belum menjamin adanya keberagamaan dalam arti sesungguhnya. Masih jauh nian, jarak antara formalitas kehidupan beragama dan kedalaman kehidupan beragama itu sendiri. Masih sangat lebar jurang antara religi dan religiositas, antara hidup beragama dan rasa keberagamaan.

Tuntutan bagi kita sudah tentu adalah bagaimana menjembatani antara keduanya. Semata-mata mengandalkan religi, atau formalitas keagamaan belaka, kita tidak akan mencapai religiositas, atau rasa keberagamaan, yang cukup mendalam untuk menyelamatkan diri dari godaan melupakan kebesaran Allah dan Keagungan-Nya. Ternyata tidak mudah menjadi seorang beragama yang benar-benar dapat dinamakan beragama, bukan?

Kumpulan Karangan Abdurrahman Wahid
Bagian Kedua: KEARIFAN HIDUP
Sumber tanggal 2-7-1988

Komentar

Powered by Facebook Comments