Gus Dur : Islam dan Titik Tolak Etika Pembangunan

Gus Dur : Islam dan Titik Tolak Etika Pembangunan

66 Pembaca
0
Foto Alm K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Foto Alm K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Dalam sidang kelompok seminar tentang pesantren di Berlin Barat bulan Juli lalu (1987), diajukan sebuah pertanyaan menarik. Prof. Jeuhy dari Universitas Frankfurt menunjuk kepada tema penyelamatan (salvation) sebagai titik tolak etika pembangunan Kristiani. Melalui pembebasan manusia dari dosa asal, terjadi proses evolusioner atau revolusioner untuk mencapai kehidupan yang diinginkan. Menurut Jeuhy, keyakinan akan datangnya kerajaan Tuhan melalui kedatangan seorang Juru Selamat (Messiah, Al Masih) adalah titik tolak teologis agama Yahudi tentang hal yang sama.

Dengan titik tolak penyelamatan, dinamika kehidupan kolektif masyarakat akan terjadi. Sudah wajar dari dinamika itu lalu muncul “aturan permainan” yang melandasi kegiatan penyelamatan itu sendiri. Aturan permainan itulah yang kemudian berkembang menjadi etika pembangunan. Gugusan pandangan yang membentuk sikap dan mendorong tindakan untuk membangun dalam arti mengubah pola kehidupan dari struktur yang timpang kepada struktur yang adil. Dari sudut pandangan ini, tercapainya keadilan sosial adalah bentuk duniawi dari penyelamatan yang dijanjikan Tuhan dalam teori kedua agama samawi tersebut.

Ditanyakan oleh Jeuhy kepada penulis artikel ini, apakah titik tolak teologis agama Islam bagi pengembangan sebuah etika pembangunannya sendiri? Mungkinkah pondok pesantren berpartisipasi dalam pembangunan, tanpa etika pembangunan? Bukankah akan ruyam jadinya, jika membangun tanpa landasan etis yang jelas? Bila demikian, salahkah jika agama lalu diarahkan dan bukannya mengarahkan dalam proses pembangunan?

Jeuhy lebih jauh berpendapat, bentuk-bentuk konsepsional dari wawasan teologis Kristiani mengenai pembangunan, seperti yang ditawarkan oleh teologia pembebasan, adalah konsekuensi logis saja dari titik tolak penyelamatan manusia dari dosa asal. Dengan ungkapan lain, etika pembangunan yang dikembangkan umat Nasrani adalah bentuk konkretisasi konsep penyelamatan yang cenderung berwatak utopis.

Terus terang saja, penulis lalu garuk-garuk kepala mendengar rentetan pertanyaan di atas. Professor tua yang lebih satu dasawarsa yang lalu mengembangkan “siaran radio pembangunan industri kecil” di LP3ES itu, kini mengusik sesuatu yang mendasar dari pandangan hidup yang seyogianya diacu oleh Islam. Tetapi, yang juga terus-terang saja belum sempat terpikirkan secara tuntas. Mungkin baru kilatan pandangan yang belum sistematis. Tetapi tentu rasanya akan risih juga hati penulis, jika tidak mampu menjawab rangkaian pertanyaan Jeuhy itu. Jauh-jauh dibiayai datang dari Indonesia, di Berlin tidak bisa memberikan jawaban. Hasilnya, adalah pemikiran awal yang akan disajikan selanjutnya dalam kolom ini, dimuatkan di sini agar didalami bersama. Kalau perlu, ditolak.

***

Penulis memulai dengan pernyataan, bahwa kaum muslimin diharuskan mengikuti keteladanan sempurna yang diberikan oleh Nabi Muhammad selaku Utusan Allah (Rasulullah). Kalau demikian, apakah yang paling inti dari keutusan Beliau? Dalam pandangan penulis, intinya ada dua hal. Pertama, keyakinan bahwa manusia adalah mahkluk cipataan Allah, karena itu harus menghamba kepada-Nya. Penghambaan inilah yang sebenarnya merupakan ibadah kepada Allah, yang merupakan penafsiran tunggal atas kata Islam itu sendiri. Kata “Islam”, dalam terjemahan harfiahnya berarti penyerahan diri. Penyerahan total dalam lingkup rasa menghamba kepada-Nya semata. Hal kedua yang dibawakan Rasulullah adalah penugasan Beliau untuk membawakan penyejahteraan kehidupan umat manusia secara keseluruhan. Tugas yang dirumuskan Al-Qur’an dengan ungkapan sederhana, rahmatan lil’alamin.

Untuk kepentingan meneladani Rasulullah dalam menghamba kepada Allah dan menyejahterakan kehidupan umat manusia, kaum muslimin didudukan dalam konteks sebagai manusia. Makhluk unik inilah yang diberi status kemuliaan di sisi-Nya, diberi-Nya bentuk kemakhlukan yang sempurna (ahsan taqwim), dan diperintahkan-Nya menyusun untuk menghamba dan menyejahterakan kehidupan itu bukanlah sesuatu yang abstrak. Sasarannya cukup konkret, dalam Al-Qur’an dirumuskan sebagai “negeri sejahtera dan penuh pengampunan Tuhan” (baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur).

Memang, Islam tidak memiliki konsep dosa asal, karena manusia pada dasarnya lahir seperti makhluk-makhluk lain. Ia lahir dalam keadaan suci bersih, yang diistilahkan dengan kata fitrah. Karenanya, tidak perlu mengalami penyelamatan oleh Tuhan. Kalaupun di akhir zaman nanti datang seorang Juru Selamat (Al Masih), maka ia akan menyelamatkan dunia dari kehancuran akibat ulah manusia dalam kehidupan di dunia ini. Walhasil, Islam tidak mengenal dosa kolektif, melainkan memiliki tugas kolektif untuk menyelamatkan dunia akibat ulah sebagian di antara manusia sendiri.

Namun, dari titik nol berupa fitrah manusia hingga titik seratus berupa “masyarakat sejahtera yang penuh pengampunan”, terbentang spectrum sejarah kehidupan manusia. Makhluk serba berfitrah ini dapat saja lupa kepada tugasnya, dan gagal menciptakan kehidupan yang dicitakan itu, kalau tidak dipagari kesadaran penuh untuk menghamba kepada Allah semata. Ia dapat saja menghamba kepada harta benda, kedudukan, maupun kekuasaan.

Jadi, acuan “non-evolusioner” dari kehidupan menurut versi Islam ini juga tidak kalah dramatisnya dari acuan Kristiani dan Yahudi. Tema keharusan menghamba sama dinamisnya dengan tema dosa asal dari konsep teologis umat Nasrani dan konsep penyelamatan dari agama Yahudi. Dinamikanya sama-sama terletak pada keharusan melakukan upaya perbaikan kehidupan melalui perubahan struktur masyarakat. Perbahan dari struktur yang timpang kepada struktur yang serba berkeadilan. Juga sama dari kemungkinan kontekstualisasi upaya tersebut, bisa melalui cara evolusioner ataupun revolusioner.

Dari kemungkinan melakukan pilihan cara perubahan itulah sebenarnya muncul etika pembangunan masing-masing dari ketiga agama monoteistik tersebut, menurut pandangan penulis. Bukannya dari titik tolak tematisnya, seperti dikemukakan Jeuhy. Karenanya, terbuka kemungkinan munculnya etika pembangunan yang evolusioner maupun revolusioner dari ketiga agama tersebut, seperti terbukti dari sejarah. Dengan kata lain, agama sebenarnya netral-netral saja pandangannya tentang cara perubahan struktur masyarakat; yang menentukan justru adalah umat yang mendukungnya. Karena itu, pada dasarnya agama bukanlah politik. Kalau agama berubah menjadi ideologi politik, berarti ia menjadi korban dari tindakan mempolitikkan (verpolitisasi) dari umatnya belaka.

***

Jika agama bukan politik, dengan sendirinya etika pembangunan yang dibawakan oleh agama harus benar-benar sesuatu yang etis. Bahwa dari etika pembangunan Judaistik, Kristiani ataupun Islami kemudian berkembang pemikiran ideologis, itu merupakan perkembangan historis dan bukannya teologis. Kenyataan ini justru yang sering kali salah dipahami orang, dengan anggapan seolah-olah agama harus berwatak ideologis.

Kesalahan dalam memahami hakekat agama itu kemudian membuahkan sikap apriori, yang mengharuskan agama mengambil sikap politis dan wawasan ideologis. Walaupun dalam dirinya kedua hal itu tidak dapat dipersalahkan, sikap untuk memutlakkan keduanya dan menyalahkan sudut pandang lain terhadap agama adalah kesalahan yang mendasar. Ia akan membuahkan ekstremitas sebagai suatu “sikap agama”. Akan terjadi sikap menyalahkan pendekatan lain, seperti terlihat dari kemarahan penganut teologi pembebasan terhadap para Uskup dan Uskup Agung yang menyantuni pemerintahan diktatorial, sikap kaum Khawarij yang mengkafirkan kaum Sunni, dan sikap kaum Zealot yang memurtadkan orang Yahudi yang pasrah kepada kekejaman para prokurat Romawi dahulu.

Adanya ektremitas dalam sikap inilah yang seharusnya mendorong kaum beragama untuk senantiasa memeriksa ulang landasan etis bagi pemikiran mereka tentang kehidupan, utamanya dalam era pembangunan seperti sekarang. Sudahkah tugas pembebasan, penyelamatan atau penyejahteraan dilaksanakan? Arifkah sikap menyalahkan pihak lain, sedangkan pelaksanaan tugas sendiri saja belum sungguh-sungguh dilakukan?

Penulis merasa harus berterima kasih kepada pertanyaan-pertanyaan Prof. Jeuhy itu, yang merangsang pemikiran lebih jauh. Mampukah kita semua mengajukan pertanyaan seperti itu dalam hidup kita?

Kumpulan Karangan Abdurrahman Wahid
Bagian Ketiga: DIMENSI-DIMENSI KEISLAMAN
Sumber Kompas, 13-8-1987

Komentar

Powered by Facebook Comments